Si Petruk Ngamuk : “Kuwi lho wong-wong londo sing agawe rusak e bongso!”. Paradigma ini sendiri khan berasal dari para wong Londo-londo di Linggis itu yang berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin di tahun 1483 yaitu, bahwa paradigma itu khan buatan manusia yang berarti suatu model atau pola dudu polah yang berasal juga dari bosone wong-wong Yunani itu ya itu paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik). Lha dengan demikian kowe Reng yang menjadi agen linggis itu yang sedikit-diki pake boso linggis dan baju linggis.“
Si Gareng mbengkereng (marah) : “Ora iso, itu si sarab mblekadap yang ngrusak tatanane Jowo!, wong rambut apik-apik kok ditutupi itu khan aku tak bisa melihat keindahan anugrah sang pencipta ini. Iya ndak Truk? Ayo LEPASSSSS….kan!!!!”
Aku tak kuasa lagi melihat keduanya dalam posisi siap siaga dalam posisi kuda-kuda troya. Akhirnya aku tak mampir saja ke tempat anakku si Bagong yang semlohai-hai dan ganteng sendiri. Dia sedang tidur-tiduran dan bangun-bangunan di dipan (kursi panjang) dan ku sapa:
“Ngger Bagong sing denok deblong moblong-monyong, piye ngger pendapatmu?
Delok en kuwi kakang-kakangmu podo bengkerengan.”
Bagong ndleweh kepadaku : “Mbuuuuuuh…. jangan ganggu diriku yang sedang tidur lagi bangun lagi. Wah, Papi mengganggu kenikmatanku nih!. Pi….pap, sampeyan yang jadi bapaknya mestinya secepatnya mencarikan kami Ibu Pertiwi yang asliiiiiiii….kalau tak becus apa perlu kulamarkan kepada si Ibunya Mbak Tiwi so rondo semlohai itu….mau gak piiiiii..pap?!!”
Sebagai single parent alias orang tua tunggal merangkap ibu dan bapaknya anak-anakku itu aku jadi bingung dan serba salah dan akhirnya disalahkan juga oleh anak-anakku.
Werrrr…keduwer-suwerrr…dari pada yang mana aku mau mencari angin saja. Ah, aku mau mampir ke tempat ehem..ehem ituku si Dewu Saraswati yang berprofesi sebagai sekertaris pustaka Jonggring Selokan. zzzzzzzzz….jangan sampai anaku ku tahu aku mau pergi tanpa kesan dan pesan supaya mereka tidak nginthil mengintelek ijen langkah dan jejakku.
“Hallo sayang Dewi per sik sik….sik…maniskuuuu. Apa kabar?”
“Oh deediii…ded..ded sayangku kekasihku kenapa tak seme es dulu sebelum kau datang, darling…..eemmmmmuach…much..”, dalam hati si Dewiku asmaraku mungkin berkata : “eeemmmuat..mat….maaaati koen. Wis tuwek nggaya cah enom”…
Sambil mengoles bibirnya itu Dewiku bertanya: ” Ada pertanyaan yang ditanyakan kakanda sayang?”
“Darrr Link, plis beri aku pandangan akan makna tentang PARADIGMA itu sayang…..pliss..emplis…ojo pipisss…”
“Oh…itu….sebentar ded…saya buka laci brankas case-nya di pojok sana. Ded, coba pakai kaca mata kuda dulu yah….ini artinya sayang….“, sambil memasangkan kaca mata itu tercium aroma parfum…heeemm..hemmmmm wuenak tenan.
“Dalam olah mengolahannya untuk orang-orang yang makan bangku sekolahan dan sering duduk terpukur hur ketekur memberi maknanya sebagai PAKEM yang berarti cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).“
Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual”.
Mode Dyar……tiba-tiba sekonyong-konyong koder aku tak kober mendelik (ngumpet) ketika kudengar di luar sana terdengar suara …Duuuer…dorrr..dug ..dag..dig…dug…berisik. Waduh jangan-jangan itu anak-anakku memergokiku di sini.


Sumber ide :
- ^ Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta 2008. Hal. 27.
- ^ (en) Free Online Dictionary:Paradigm
- ^ (en) Etimologi Online: Paradigma
- ^ (en)>WIKIPEDIA
Ditulis oleh OKNO
Ditulis oleh GENDREW 002 



Ditulis oleh GENDREW 002 


















